Weda Utara, Halmahera Tengah — Desa Kiya berdenyut lebih kencang. Pendampingan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) yang digelar PKB/PLKB Balai KB Kecamatan Weda Utara hari ini menyulut semangat kolaborasi: Pokja Kampung KB, kader KB, dan lintas sektor duduk satu meja, satu peta, satu tujuan—mempercepat layanan keluarga, menekan stunting, dan memperkuat ketahanan sosial-ekonomi warga.
“Pendampingan ini bukan sekadar sosialisasi, tapi penyamaan langkah. Data kita satukan, program kita selaraskan, dan hasilnya harus terasa di tiap rumah,” ujar PKB & PLKB sapaan Ibu Anti & Ibu Tini sebagai pendamping yang memoderatori Kegiatan ini.
Irama Kolaborasi di Desa Kiya
Suasana balai desa berubah jadi ruang komando kolaboratif. Hadir lengkap: Pokja Kampung KB (I–IV), kader KB, bidan desa dan tim Puskesmas, pemerintah desa, PKK, Karang Taruna, pendidik/SSK, tokoh adat–agama, hingga pelaku UMKM. Masing-masing memetakan peran: dari edukasi gizi ibu-anak, literasi kesehatan reproduksi remaja, penguatan ekonomi keluarga, sampai pengelolaan data by name by address di Rumah DataKu.
Fokus Kegiatan
-
Pemutakhiran Data Keluarga di Rumah DataKu untuk pemetaan keluarga berisiko (kehamilan risiko, balita rawan gizi, remaja putus sekolah).
-
KIE Terpadu: kelas ibu hamil, konseling catin, KIE remaja (PIK-R/SSK), dan promosi ayah terlibat.
-
Layanan Mendekat: rencana jemput bola KB, integrasi Posyandu–Kampung KB, dan rujukan cepat kasus gizi/kehamilan risiko.
-
Penguatan Ekonomi Keluarga: perintisan kelompok UPPKA dan kebun gizi keluarga sebagai bantalan pangan.
Lima Komitmen “Desa Kiya”
-
Satu Data: updating bulanan by name by address di Rumah DataKu.
-
Satu Layanan: jadwal layanan KB terpadu dan posyandu “ramah ibu & bayi”.
-
Satu Remaja: kelas SSK/PIK-R rutin dengan proyek aksi literasi kependudukan.
-
Satu Gizi: Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) level dusun berbasis bahan lokal.
-
Satu Nafas Ekonomi: penguatan UPPKA—dari pelatihan, permodalan mikro, hingga pemasaran digital.
Rencana 100 Hari
Tim menyepakati target realistis: verifikasi data keluarga berisiko, empat siklus KIE prioritas (1000 HPK, ASI Eksklusif, TTD remaja putri, KB pascapersalinan), satu demplot kebun gizi, dan peluncuran kalender layanan “Kiya Tanggap” di papan informasi desa—agar warga tahu kapan dan di mana layanan tersedia.
“Ketika Pokja, kader, dan lintas sektor bergerak serempak, Kampung KB bukan lagi program—ia menjadi budaya gotong royong baru,” tegas perwakilan pemerintah desa Kiya.
Gelombang perubahan dari Kiya mengalun keluar: kolaborasi nyata, data yang hidup, layanan yang mendekat, dan keluarga yang kian berkualitas. Kiya bergerak—dan ketika semua sektor menyatu, hasilnya bukan wacana, melainkan perubahan yang bisa dihitung dan dirasakan.
Oleh : Anti & Tini I PKB PLKB Weda Utara . Editor : Admin

Comment